Bagaimana Setelah Ramadhan

Ramadhan telah berlalu beberapa hari lalu. Tentunya sebagai orang beriman kita patut bersedih dan merindukan kembalinya bulan penuh berkah itu. Dan orang yang tidak bersedih dan merindukan bulan Ramadhan pastilah dia merupakan orang yang tidak berakal. Pikirkan saja, jika ada tamu yang datang dengan sejumlah hadiah yang terus diberikannya kepada kita sampai perginya tamu itu, tentulah kita tidak menginginkan tamu itu pergi, atau pastilah kita akan merindukan tamu itu.
Seiring berlalunya Ramadhan, sangat banyak orang yang telah kembali lalai dari ibadahnya -bahkan telah ada setelah sepekan pertama Ramadhan- . Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
احب الاعمال الى الله تعالى ادومها و ان قل
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”   (HR. Muslim)
Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat ’Abdullah bin ’Umar. Yaitu Ibnu ’Umar dicela karena meninggalkan amalan shalat malam. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku,
يا عبد الله, لا تكن مثل فلان. كان يقوم الليل فترك قيام الليل
“Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari)
Para Ulama pun berkata, jadilah orang Rabbaniyyin (beribadah terus menerus) dan janganlah menjadi orang Ramadhaniyyin (beribadah hanya bulan Ramadhan).
Salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah bulan Ramadhan adalah puasa Syawwal. Puasa Syawwal ini dilakukan selama enam hari, dan boleh dilakukan tidak berturut-turut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Selain itu, masih banyak lagi amalan-amalan yang sangat merugikan untuk ditinggalkan, seperti sholat lail dan membaca Al Qur’an. Tidak mengapa jumlah bacaan Al Qur’an kita tidak seperti pada bulan Ramadhan, tapi usahakan agar jangan ditinggalkan. Janganlah kita sampai diadukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti di dalam Al Qur’an:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً ﴿٣٠﴾
Dan Rasul berkata, Wahai Allah, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an sebagai sesuatu yang diabaikan. (Al furqan 30)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s