Kedudukan Akal dalam Islam

Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pencipta manusia telah membekali manusia dengan akal, yang perannya sangat vital bagi kehidupan manusia. Dengan akal, manusia dapat membedakan kebaikan dan keburukan, serta memahami kebesaran dan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla. Karena peran vital tersebutlah, maka Islam mengatur tentang bagaimana cara manusia berfikir dan menggunakan akal.

KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM

1. Agama diturunkan hanya kepada orang yang berakal

syariat Islam hanya dibebankan kepada orang-orang yang berakal. Karena hanya orang-orang yang berakal yang dapat memahami syari’at. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah: 269)

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Ar Ra’d: 19)

Hanya orang-orang yang akalnya tidak/belum berfungsi dengan baik yang dibebaskan dari syariat Islam, atau dibebaskan dari perintah dan larangan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Pena pencatat amal dan dosa itu diangkat dari tiga golongan; orang yg tidur hingga terbangun, orang gila hingga ia waras, & anak kecil hingga ia baligh. [HR. Abudaud No.3822].

Sangat banyak ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan bahwa Al Qur’an dan seluruh tanda-tanda kebesaran Allah hanya diturunkan kepada orang-orang yang berakal.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 190)

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar: 9)

2. Diperintahkan Allah agar dijaga

Salah satu hikmah dari larangan Allah subhanahu wa ta’ala atas khamr (minuman keras) adalah untuk menjaga akal dari kerusakan. Sebab jika akal telah rusak, maka seseorang dapat melakukan apapun yang dia kehendaki. Sebagaimana firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al Maidah: 90-91)

Melalui khamr, syaitan akan mengendalikan peminum khamr untuk berbuat kerusakan, serta menjauhkannya dari mengingat Allah. Karena itu, sering ditemukan orang yang berbuat kerusakan akan meminum khamr terlebih dahulu sebelum berbuat kerusakan.

Dengan kata lain, akal diciptakan Allah sebagai pengendali kehidupan. Supaya manusia mendapatkan kemuliaan dalam kehidupannya dengan akal.

3. Menjadi Sebab Diturunkannya Syariat

Salah satu tujuan diturunkannya syari’at adalah untuk mengatur penggunaan akal. Syari’at dan akal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Akal merupakan syarat dalam mempelajari semua ilmu. Ia juga syarat untuk menjadikan semua amalan itu baik dan sempurna, dan dengannya ilmu dan amal menjadi lengkap. Namun (untuk mencapai itu semua), akal bukanlah sesuatu yang dapat berdiri sendiri, tapi akal merupakan kemampuan dan kekuatan dalam diri seseorang, sebagaimana kemampuan melihat yang ada pada mata. Maka apabila akal itu terhubung dengan cahaya iman dan al-Qur’ân, maka itu ibarat cahaya mata yang terhubung dengan cahaya matahari atau api” [Majmû’ul Fatâwâ, 3/338].

Artinya, peran akal dalam mengendalikan kehidupan manusia sangat penting. Akal dan syariat adalah seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan.

JIKA AKAL DIKALAHKAN DENGAN HAWA NAFSU

Sebagian manusia telah dikalahkan akalnya oleh syahwatnya. Mereka menggunakan akalnya untuk menentang syari’at dan melecehkan sunnah Rasulullah. Mereka mengecap orang yang menjalankan syariat Allah dan sunnah Rasulullah sebagai orang yang bodoh dan terbelakang.

Beberapa contoh kasus seperti itu telah terjadi. Ada orang yang mengatakan bahwa ibadah haji itu hanya membuang harta dan tenaga. Ada juga yang mendukung perilaku penyimpangan seksual (yang telah nyata pengharamannya dalam Al Qur’an dan Hadits) dengan dalih hak asasi manusia. Dan pemikiran sesat lainnya yang telah mereka sebarkan untuk merusak akal manusia.

Orang yang beriman jika diturunkan kepadanya suatu perintah, maka mereka akan mendengarnya dan menaatinya. Sedangkan orang kafir hanya mendengar perintah tersebut, namun mereka tidak menaatinya bahkan melecehkannya. Perbandingan orang beriman dan orang kafir dalam menerima perintah dari Allah telah termaktub dalam Al Qur’an:

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (Al Baqarah: 285)

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (An Nisa: 46)

Bagi orang beriman, perintah dan syariat Allah adalah sesuatu yang wajib ditaati tanpa harus dianalisis dan dipertentangkan. Sedangkan bagi orang kafir yang menganggap akalnya lebih hebat dari syariat Allah, mereka akan melecehkan syariat tersebut. Bagaimana mungkin akal manusia mengalahkan kepintaran dan kecerdasan Allah yang menciptakannya?

Intinya, akal bukan berfungsi sebagai hakim atas segala hal. Namun akal hanya berfungsi sebagai alat untuk memahami kekuasaan Allah. Letakkan akal kita di belakang Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s