Kemuliaan Hanyalah dengan Islam

Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Kita adalah kaum yang diberi kemuliaan oleh Allah dengan Islam. Kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita.”

Beliau mengucapkan kalimat yang menggelora tersebut saat beliau hendak membuka Baitul Maqdis (Palestina) untuk mengambil kuncinya yang telah kita hilangkan saat kita menelantarkan kemuliaan dengan Islam. Saat itu beliau hanya hanya menunggang seekor unta bersama pembantunya yang terkadang bahkan pembantunya yang menaiki unta tersebut dan beliau yang mengiringinya. Maka, para orang Nasrani mendengar kedatangan Umar yang namanya sudah mengguncangkan dunia dan reputasinya telah menggetarkan wilayah mereka, yang kalau nama Umar disebut dalam satu pertemuan maka Kisra dan Kaisar pun pingsan mendengarnya karena saking takut dan gelisahnya.

Ketika Kisra mengetahui kekalahannya, ia hendak mengadakan perundingan dengan Umar. Ia mengutus Hurmuzan, salah seorang menterinya untuk menuju Madinah. Utusan itu bingung bagaimana ia berbicara dengan Khalifah Umar bin Khaththab. Akhirnya ia berangkat dengan pakaian sutra berlapis emas dan perak. Saat ia memasuki kota Madinah, ia mencari istana Khalifah. Namun ternyata Amirul Mukminin tidak memiliki istana.

Singkat cerita, utusan tersebut mendatangi sebatang pohon kurma di salah satu sudut kota Madinah. Ternyata Amirul Mukminin sedang terlelap di bawah pohon tersebut. Utusan Persia kaget dan gemetar. Setelah Umar terbangun, beliau diberitahu oleh sahabat kalau yang datang adalah Hurmuzan dan rombongannya yang ingin berunding dengan Khalifah. Maka Hurmuzan berkata sambil menggelengkan kepala, “Engkau menghukum rakyatmu dengan penuh keadilan, sehingga engkau bisa tidur dengan aman”.

Sayyidina Umar telah menunjukkan kita bagaimana kemuliaan hanya dapat diraih dengan Islam. Saat ini kita lebih sering merasa mulia dengan simbol keduniaan, bukan dengan syiar Agama. Sehingga Allah menghinakan kita. Di sekitar kita ada orang yang tidak ingin menisbatkan diri kepada Islam secara mendalam, hanya di tepian. Karena para musuh Allah menjuluki para dai dengan sebutan ekstrim atau teroris, dan istilah keji lain.

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Al Hajj: 11)

Allah subhanahu wa taala hanya membagi manusia menjadi dua, yaitu muslim atau pendosa, orang shalih atau ahli maksiat, yang tidak mungkin sama antara keduanya. Allah ta’ala berfirman:

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (Shaad: 28)

Ummat Islam adalah ummat pertengahan, adil dalam segala hal. Bukan ummat yang hidup tanpa aqidah / prinsip atau ummat yang berlebih-lebihan sehingga menuhankan segala hal. Karenanya, ummat Islam hanya menyembah Allah semata.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Al Baqarah: 143)

Ummat Islam bukanlah golongan yang menyanjung kehidupan dunia, namun bukan juga golongan yang bersifat kaku seperti para pendeta yang mengharamkan dirinya terhadap apa yang Allah halalkan. Kita adalah ummat pertengahan, yang menyukai keindahan selama tidak bertentangan dengan syariat Allah. Ummat Islam juga merupakan ummat yang pertengahan dari sisi zaman, bukan ummat yang pertama dan bukan juga yang terakhir. Sehingga dapat mengambil pelajaran dari masa lalu dan membangun generasi yang akan datang.

Ummat Islam juga merupakan ummat yang pertengahan dari sisi pemikiran. Bukan golongan yang menghapuskan akal, namun bukan pula menjadi pemuja akal. Akal diselaraskan dengan dalil wahyu, serta pemikiran dengan ilmu.

Maka merasa mulialah dengan Islam, wahai kaum muslimin! Merasa mulialah dengan jalan yang ditapaki para Nabi, Rasul, serta orang-orang shalih. Jika ada orang yang tidak ingin menisbatkan dirinya dengan Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad, serta para orang shalih, maka ia akan menisbatkan dirinya kepada iblis, Fir’aun, Abu Lahab, serta para ahli neraka. Sungguh Allah telah menjelaskan kedua jalan di atas.

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. (Al Kahfi: 29)

Demi Allah. Dahulu manusia dalam keadaan hina dan tersesat, hingga Allah mengutus RasulNya. Maka sungguh sangat celaka orang yang mencari kemuliaan dengan mengikuti jalan orang-orang kafir, mendukung mereka, bersikap “menjilat” kepada mereka, bahkan setia kepada mereka meskipun mereka memerangi kaum muslimin. Merekalah orang-orang yang dalam hatinya terdapat penyakit kemunafikan, maka mereka akan menyesali apa yang mereka tempuh.

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (An Nisa: 138-139)

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (Al Maidah: 52)

Mari kembalikan kemuliaan Ummat Islam dengan memuliakan diri kita dengan Islam! [FIM]

Sebagian besar dirangkum dari buku “Mereka Ingin Memadamkan Matahari (Al Islam wa Qodhoyal ‘Ashr)”, karya Dr. ‘Aidh Al Qorni, M.A.. Tulisan ini juga telah dimuat dalam buletin Al Iltizam KAMUPI PNUP edisi 2 desember 2016.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s