Kafir Tanpa Sadar, Mungkinkah?

Dua kalimat syahadat adalah kalimat yang menjadi penanda seseorang menjadi muslim. Namun setelah mengikrarkannya bukan berarti dia dijamin menjadi seorang muslim seumur hidupnya. Tentunya selain diucapkan, dua kalimat syahadat harus dibenarkan dengan hati dan diamalkan dengan perbuatan serta tidak merusak syahadat dengan apapun yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Di zaman penuh fitnah ini, sangat disayangkan jika seseorang tergelincir untuk melakukan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari Agama yang mulia ini.

Ada beberapa perbuatan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, yang terkadang justru dilakukan tanpa menyadari konsekuensinya. Pada tulisan ini kita akan membahas secara singkat beberapa perbuatan yang menghilangkan status seseorang sebagai muslim yang sudah sering dijumpai belakangan ini.

Menjadikan suatu makhluk sebagai perantara Allah

Jika seseorang terang-terangan menyembah kepada selain Allah maka itu jelas merupakan perbuatan syirik yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Namun bagaimana jika ada orang yang menyembah selain Allah namun dia mengklaim bahwa dia tidak menyembah makhluk/benda tersebut, tapi itu hanya perantara dirinya dengan Allah? Perbuatan seperti ini sama halnya menundukkan benda setara dengan Tuhannya. Sikap seperti ini merupakan salah satu pembatal keislaman. Allah subhanahu wa taala mengancam orang yang seperti ini dalam firmanNya:

Barang siapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka…” (QS. al-Ma’idah: 72)

Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sekutu) selain Allah, maka tidaklah mereka memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula dapat memindahkannya.’ Yang mereka seru itu mencari sendiri jalan yang lebih dekat menuju Rabb-nya, dan mereka mengharapkan rahmat serta takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabb-mu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (Al-Israa’: 56-57)

Ragu dengan kekafiran orang musyrik

Sangat jelas bahwa siapapun yang tidak bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan Nabi Muhammad adalah Rasul Allah maka dia musyrik / kafir. Namun sangat disayangkan jika prinsip yang jelas ini masih diragukan oleh sebagian ummat Islam. Sebagian ummat Islam ada yang menganggap semua agama sama, dan sama-sama berhak untuk masuk surga. Bahkan mereka tidak menganggap orang di luar Islam adalah kafir. Ini merupakan pemahaman kaum liberal, yang ingin mengaburkan makna dari kata kafir.

Padahal sudah sangat jelas dalam Al Qur’an Allah subhanahu wa taala menyatakan Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoiNya.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (Ali ‘Imran: 19)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Menghina syariat Allah dan Rasulullah

Hal ini terkadang kita jumpai, bahkan dilakukan oleh sebagian orang yang masih mengaku muslim. Mereka menghina syariat Allah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, syiar Islam, atau orang-orang yang menjalankannya. Padahal Allah telah mengancam orang-orang seperti ini meskipun mereka berdalih melakukannya hanya bercanda.

Karena bernafsu agar orang lain menyebutnya pluralisme atau eklusif, terkadang untuk agamanya sendiri mereka main-main dan memperolokkannya. Bahkan kalau perlu menjual agamanya demi kedekatan dengan orang lain yang sudah jelas berbeda agama dan hukum-hukumnya. Perlakuan seperti ini sudah membatalkan keislaman.

“… Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah: 65-66)

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’aam: 68)

Tidak berhukum dengan hukum Allah

Membenci syariat Islam, meyakini bahwa hukum Allah tidak wajib diikuti, atau meyakini ada hukum yang lebih pantas diikuti dibanding hukum Allah, atau meyakini hukum Allah sudah tidak sesuai dengan zaman.

Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44)

Hukum Allah harus lebih tinggi dari hukum apapun, termasuk hukum konstitusi. Karena hukum selain hukum Allah adalah buatan manusia, yang bercampur dengan kepentingan si pembuat hukum. Berbeda dengan hukum Allah yang maha adil, yang sesuai dengan kondisi manusia. Hukum Allah hendaknya kita terapkan di setiap kehidupan kita, terutama dimulai dari diri sendiri dan dari lingkungan kita.

Lebih loyal kepada orang kafir dibanding dengan sesama muslim, dan membantu orang kafir memerangi kaum muslimin

Islam mengajarkan Al Wala’ dan Al Bara’, yaitu loyalitas/cinta kepada kaum muslimin dan berlepas diri/benci kepada orang kafir. Allah melarang kita untuk menjadikan orang kafir sebagai teman dekat dan pemimpin, karena mereka merupakan musuh Allah.

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya’ (teman dekat/pemimpin) bagimu; sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai awliya’, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Maidah: 51)

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, dan Dia menempatkan mereka di dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (QS Al-Mujaadilah:22).

Sekarang banyak muncul syubhat yang mengatakan lebih baik kafir tapi baik daripada muslim tapi jahat. Kaidah ini selain menyatakan loyalitas kepada kaum kafir, juga merupakan suatu kezhaliman kepada kaum muslimin karena menganggap kaum muslimin adalah orang yang jahat (naudzubillah).

Meninggalkan shalat dengan sengaja (mengingkari kewajibannya)

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (Hadits riwayat Muslim).

Perjanjian (pembatas) antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.” (Hadits riwayat Ahmad)

Orang yang meninggalkan shalat karena tidak mengakui kewajiban tersebut maka dia telah keluar dari Islam. Adapun orang yang meninggalkan shalat karena menyepelekannya maka dia telah melakukan dosa besar.

Itulah beberapa pembatal keislaman. Bukan berarti membahas pembatal keislaman menjadikan kita mudah mengkafirkan orang Islam, karena hal tersebut sangat terlarang. Namun bukan juga kita menganggap sepele pembahasan di atas, karena menyangkut aqidah yang merupakan pokok Agama.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya maka sungguh tuduhannya itu akan kembali terarah kepada salah seorang di antara mereka berdua.” (Hadits Bukhari dan Muslim)

Mengklaim seorang muslim telah kafir tentunya harus berdasarkan Al Qur’an dan hadits serta bukti yang kuat. Namun hal tersebut kita harus ketahui agar keislaman kita tetap terjaga. Semoga Allah menjaga keislaman dan keimanan kita hingga ajal menjemput. [FIM]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s