Antara Sifat Tegas dan Lembut

Islam merupakan Agama yang mengajarkan sifat cinta dan kasih sayang. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat kepada seluruh Alam, sebagaimana firman Allah ta’ala:

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Surah Al Anbiya: 107)

Namun, Islam sebagai Agama yang pertengahan tidak hanya mengajarkan sifat rahmat. Ada kalanya sifat tegas juga dibutuhkan. Seorang Muslim harus memahami kapan dan kepada siapa saja sifat rahmat dan tegas itu ditujukan. Hal tersebut akan dijelaskan dalam beberapa poin berikut.

Karakter Ummat Rasulullah

Para pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki beberapa sifat yang diceritakan dalam Al Qur’an. Salah satunya adalah tegas kepada orang kafir dan berkasihsayang kepada sesama mukmin.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya,(Surah Al Fath: 29)

Allah mendahulukan sifat saling berkasih sayang antar sesama mereka daripada ibadah, tahajjud, dan mencari ridha Allah. Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat lain menerangkan, pondasi hubungan seorang muslim dengan saudara muslimnya yang lain adalah hubungan suci dan mulia yang tidak didapatkan dalam hubungan manusia yang lain.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela… (Surah Al Maidah: 54)

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, dan Dia menempatkan mereka di dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Surah Al Mujaadilah: 22).

Iman merupakan tali persaudaraan yang sangat kuat bagi seorang mukmin bagi mukmin lainnya, bahkan dapat mengalahkan tali persaudaraan nasab / keturunan. Banyak ayat dan hadits yang menggambarkan persaudaraan antar orang beriman.

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Surah Al Hujurat: 10)

“Sesama orang mukmin itu bagaikan satu bangunan yang saling meguatkan” (Hadits riwayat Bukhari)

Tidak beriman seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih-mengasihinya, sayang-menyayanginya, dan santun-menyantuninya, bagaikan satu tubuh yang jika satu anggotanya menderita sakit maka menderita pula keseluruhan tubuh…” (Hadits riwayat Muslim)

Berbeda dengan sifat terhadap orang kafir. Kita diperintahkan untuk tegas kepada mereka serta membenci kekafiran yang mereka lakukan.

Hai Nabi, Berjihadlah ( perangilah ) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-seburuknya ”. (Surah At Tahrîm: 9)

Bersikap Pertengahan

Namun harus diketahui bahwa sifat tegas bukan berarti kasar dan bersifat zhalim kepada orang kafir, terlebih kepada orang kafir yang tidak memusuhi kaum Muslimin. Sifat tegas harus dibarengi dengan adab dan keadilan, sehingga ketegasan tersebut bertujuan menjaga harga diri kaum Muslimin di hadapan orang kafir.

Allah memerintahkan kita untuk memerangi orang kafir yang menampakkan permusuhannya terhadap ummat Islam, namun bukan berarti seluruh orang kafir wajib diperangi. Ada juga orang kafir yang dibolehkan kepada mereka berbuat baik, bahkan harta dan nyawanya dilindungi oleh pemerintahan Islam. Mereka adalah orang kafir yang hidup damai berdampingan dengan kaum Muslimin yang tetap wajib diberikan hak-haknya selama mereka juga menjaga hak-hak kaum Muslimin.

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Surah Al Maidah: 8)

Dan jika salah seorang kaum musyirikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya” (Surah At Taubah: 6)

Di dalam haditsnya, Rasulullah mengancam orang yang membunuh kafir dzimmi (orang kafir yang membayar jizyah/pajak kepada pemerintahan Islam).

Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. (Hadits Riwayat An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jangan Membalik Kaidah Di Atas!

Sebagian orang Islam (yang berfikiran liberal dan sekuler) hendak membalik kaidah yang disebutkan dalam penghujung surah Al Fath di atas. Mereka malah menampakkan kebencian mereka kepada sesama kaum Muslimin, dan berkasihsayang kepada orang kafir. Hal ini tentu saja bisa membatalkan keislaman. Padahal Allah telah melarang kita menjadikan kaum kafir sebagai teman setia dan pemimpin.

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya’ (teman dekat/pemimpin) bagimu; sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain…” (Surah Al Maidah: 51)

Bahkan kasih sayang mereka sudah sampai bersinggungan dengan prinsip-prinsip akidah seperti: menjaga tempat ibadah mereka saat perayaan hari raya mereka, saling mengucapkan selamat atas hari besarnya, sampai melakukan doa bersama untuk mengakui kebenaran agamanya. Sebaliknya terhadap kaum muslimin yang hanya beda ijtihad dalam masalah furu’iyah (cabang), sering dikobarkan api permusuhan. Bahkan sampai memberi label “musuh” kepada beberapa kelompok dengan ciri-ciri seperti celana cingkrang, berjenggot panjang, jidadnya hitam, tidak mau qunut shubuh, tidak mau tahlilan, dan lainnya. Padahal kalau seandainya ijtihad tersebut salah, maka dosanya tidaklah lebih besar daripada kekafiran orang-orang kafir dan kesesatan aliran sempalan.

Saat terjadi konflik antara kaum muslimin dengan orang kafir, maka pasti lidah mereka menyerang ummat Islam. Sementara orang kafir, selalu aman dari serangannya. Ini juga terjadi dalam kasus keberadaan kelompok-kelompok sesat yang terus menunjukkan eksistensinya di negeri ini, selalu diberi angin atas nama toleransi dan anti kekerasan.

Toleransi merupakan sebuah kata yang sering disalahartikan oleh mereka. Sehingga dengan perilaku yang telah disebutkan di atas, mereka mengklaim ummat Islam anti toleransi. Padahal toleransi merupakan salah satu ajaran Islam. Toleransi kepada orang kafir dilakukan sepanjang tidak menyangkut masalah aqidah, seperti yang dijelaskan dalam surah Al Kafirun.

Sifat lembut dan tegas merupakan dua sifat yang sama-sama diperlukan, dan seharusnya digunakan pada tempatnya. Sayyidina Abubakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anmuma, serta para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim telah mencontohkan sifat tersebut. Para ulama kita saat ini juga ada yang lembut, namun ada juga yang tegas saat berdakwah. Dan hal itu tidak pantas untuk kita benci, karena kelembutan dan ketegasan mereka telah dilakukan dengan tepat. Mari senantiasa berdoa untuk persatuan ummat Islam agar senantiasa diberi pertolongan oleh Allah dari makar dan tipudaya orang kafir yang menampakkan permusuhan mereka serta orang munafik yang senantiasa mendukung mereka.

Iklan

2 thoughts on “Antara Sifat Tegas dan Lembut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s