Antara Sifat Tegas dan Lembut

Islam merupakan Agama yang mengajarkan sifat cinta dan kasih sayang. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai rahmat kepada seluruh Alam, sebagaimana firman Allah ta’ala:

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Surah Al Anbiya: 107)

Namun, Islam sebagai Agama yang pertengahan tidak hanya mengajarkan sifat rahmat. Ada kalanya sifat tegas juga dibutuhkan. Seorang Muslim harus memahami kapan dan kepada siapa saja sifat rahmat dan tegas itu ditujukan. Hal tersebut akan dijelaskan dalam beberapa poin berikut.

Baca lebih lanjut

Kafir Tanpa Sadar, Mungkinkah?

Dua kalimat syahadat adalah kalimat yang menjadi penanda seseorang menjadi muslim. Namun setelah mengikrarkannya bukan berarti dia dijamin menjadi seorang muslim seumur hidupnya. Tentunya selain diucapkan, dua kalimat syahadat harus dibenarkan dengan hati dan diamalkan dengan perbuatan serta tidak merusak syahadat dengan apapun yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Di zaman penuh fitnah ini, sangat disayangkan jika seseorang tergelincir untuk melakukan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari Agama yang mulia ini.

Ada beberapa perbuatan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, yang terkadang justru dilakukan tanpa menyadari konsekuensinya. Pada tulisan ini kita akan membahas secara singkat beberapa perbuatan yang menghilangkan status seseorang sebagai muslim yang sudah sering dijumpai belakangan ini.
Baca lebih lanjut

Malu, Kepingan Iman yang Mulai Terkikis

Salah satu sifat yang dimiliki manusia secara fitrah adalah sifat malu. Sifat malu telah diajarkan oleh orang tua kepada anaknya sejak kecil, bahkan sifat malu merupakan ajaran Islam yang diposisikan sangat tinggi dalam Islam. Maka sangat disayangkan jika sifat malu perlahan mulai terkikis oleh perilaku manusia yang mulai tidak mengenal rasa malu.

Menurut Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah, alhaya’ (rasa malu) diambil dari kata-kata hayat (kehidupan). Sehingga kekuatan rasa malu itu sebanding lurus dengan sehat atau tidaknya hati seseorang. Berkurangnya rasa malu merupakan pertanda dari matinya hati dan ruh orang tersebut. Semakin sehat suatu hati maka akan makin sempurna rasa malunya.

MALU MERUPAKAN FITRAH MANUSIA

Sejak awal kehidupan manusia, yaitu pada kehidupan Nabi Adam dan Istrinya di Surga, sifat malu telah ditanamkan dalam diri mereka. Sehingga sifat malu merupakan fitrah manusia. Allah menceritakan dalam Al Qur’an saat Nabi Adam dan Istrinya mengikuti ajakan Iblis untuk memakan buah yang dilarang. Setelah mereka memakan buah tersebut, aurat mereka tersingkap dan mereka merasa malu sehingga menutupi tubuhnya dengan dedaunan.

maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Surah Al Al A’raf ayat 22)

MALU MERUPAKAN AJARAN NABI DAN RASUL

Salah satu contoh yang tertulis dalam Al Qur’an adalah kisah dua putri Nabi Syuaib saat diperintahkan ayahnya menemui Nabi Musa ‘alaihissalam. Mereka menemui Nabi Musa ‘alaihissalam dengan malu-malu, karena mereka mendatangi tempat seorang lelaki yang bukan mahramnya.

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”. (Surah Al Qashash ayat 25)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan merupakan seorang pemalu. Digambarkan dalam sebuah hadits bahwa beliau lebih malu dibanding seorang gadis yang dipingit.

Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit. (Hadits Riwayat Bukhari)

MALU MERUPAKAN AKHLAK ISLAM

Salah satu tanda mulianya ajaran Islam adalah mengajarkan sifat malu. Saking pentingnya sifat malu sehingga malu merupakan salah satu bagian dari iman.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Iman itu terdiri dari 70 sekian atau 60 sekian cabang. Cabang iman yang paling utama adalah ucapan la ilaha illalloh. Sedangkan cabang iman yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari tempat berlalu lalang. Rasa malu adalah bagian dari iman.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya. (Hadits riwayar Al Hakim)

Malu dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu malu kepada Allah dan malu kepada manusia. Malu kepada Allah adalah rasa malu untuk meninggalkan perintah Allah. Malu untuk melakukan maksiat dan menjaga syahwat. Sedangkan malu kepada manusia membawa kepada sifat terpuji, serta tidak melakukan hal-hal tercela di hadapan manusia. Sifat malu akan mengontrol manusia untuk berpikir lagi sebelum berbuat atau berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang malu kepada Allah dalam sebuah hadits.

Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya”. “Kami sudah malu duhai Rasulullah”, jawab para sahabat. Nabi bersabda,“Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan sebenar-benarnya.” (HR. Tirmidzi)

HILANGNYA SIFAT MALU DI ZAMAN SEKARANG

Sangat disayangkan jika saat ini sifat malu mulai berkurang di sisi manusia. Beberapa orang tidak malu lagi untuk mengerjakan perbuatan tercela, baik di sisi manusia terlebih lagi di hadapan Allah. Seperti bermesraan di tempat umum dengan orang yang bukan mahramnya, melakukan transaksi haram, bahkan tidak malu lagi untuk meninggalkan Shalat.

Bahkan sebagian orang begitu bangganya menyebarkan berita atau bukti perbuatan maksiat mereka, yang sebenarnya mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi. Allah telah menyembunyikan aib mereka, namun mereka sendiri yang menyebarkan keburukan mereka.

Maka sungguh benarlah sabda Rasulullah berikut ini.

Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’” (Hadits Riwayat Bukhari)

Mari jaga iman kita agar tidak berkurang, dengan menjaga sifat malu dalam diri kita.