Waspada “Lubang Biawak”

1280px-2012_fireworks_on_eiffel_tower_13

Kembang api tahun baru | Source: Wikimedia

Di zaman ini, ummat Islam seakan kehilangan identitas, terutama para pemudanya. Mereka lebih bangga meniru gaya hidup orang kafir daripada menampakkan keislaman mereka. Apa yang identik dengan orang kafir mereka tiru, mulai dari penampilan, pergaulan, hingga ritual yang identik dengan syiar agama mereka. Seakan semua yang berasal dari orang kafir adalah baik dan keren, dan budaya Islam tidak keren atau ketinggalan zaman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jauh-jauh hari telah mengetahui hal ini dan memberi perumpamaan terhadap orang-orang “Islam” yang senang mengikuti orang kafir dalam sabda Beliau: Baca lebih lanjut

Kafir Tanpa Sadar, Mungkinkah?

Dua kalimat syahadat adalah kalimat yang menjadi penanda seseorang menjadi muslim. Namun setelah mengikrarkannya bukan berarti dia dijamin menjadi seorang muslim seumur hidupnya. Tentunya selain diucapkan, dua kalimat syahadat harus dibenarkan dengan hati dan diamalkan dengan perbuatan serta tidak merusak syahadat dengan apapun yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Di zaman penuh fitnah ini, sangat disayangkan jika seseorang tergelincir untuk melakukan sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari Agama yang mulia ini.

Ada beberapa perbuatan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, yang terkadang justru dilakukan tanpa menyadari konsekuensinya. Pada tulisan ini kita akan membahas secara singkat beberapa perbuatan yang menghilangkan status seseorang sebagai muslim yang sudah sering dijumpai belakangan ini.
Baca lebih lanjut

Desain Kalendermu Sendiri dengan Inkscape

Sebentar lagi, tahun masehi akan berganti dari 2016 menuju 2017. Tentu saja kalender merupakan sesuatu yang harus diganti setelah tahun berganti. Kalender biasa dibuat oleh organisasi, partai, atau industri untuk dibagikan kepada relasi atau dijual untuk penggalangan dana. Ada kalanya desain kalender yang beredar tidak sesuai dengan selera, atau ukurannya ingin dibuat berbeda. Ternyata, Anda dapat mendesain kalender versi sendiri dengan mudah hanya menggunakan inkscape, aplikasi desain grafis yang bersifat open source. Cukup ikuti langkah-langkah berikut. Baca lebih lanjut

Kemuliaan Hanyalah dengan Islam

Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Kita adalah kaum yang diberi kemuliaan oleh Allah dengan Islam. Kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita.”

Beliau mengucapkan kalimat yang menggelora tersebut saat beliau hendak membuka Baitul Maqdis (Palestina) untuk mengambil kuncinya yang telah kita hilangkan saat kita menelantarkan kemuliaan dengan Islam. Saat itu beliau hanya hanya menunggang seekor unta bersama pembantunya yang terkadang bahkan pembantunya yang menaiki unta tersebut dan beliau yang mengiringinya. Maka, para orang Nasrani mendengar kedatangan Umar yang namanya sudah mengguncangkan dunia dan reputasinya telah menggetarkan wilayah mereka, yang kalau nama Umar disebut dalam satu pertemuan maka Kisra dan Kaisar pun pingsan mendengarnya karena saking takut dan gelisahnya.

Ketika Kisra mengetahui kekalahannya, ia hendak mengadakan perundingan dengan Umar. Ia mengutus Hurmuzan, salah seorang menterinya untuk menuju Madinah. Utusan itu bingung bagaimana ia berbicara dengan Khalifah Umar bin Khaththab. Akhirnya ia berangkat dengan pakaian sutra berlapis emas dan perak. Saat ia memasuki kota Madinah, ia mencari istana Khalifah. Namun ternyata Amirul Mukminin tidak memiliki istana.

Singkat cerita, utusan tersebut mendatangi sebatang pohon kurma di salah satu sudut kota Madinah. Ternyata Amirul Mukminin sedang terlelap di bawah pohon tersebut. Utusan Persia kaget dan gemetar. Setelah Umar terbangun, beliau diberitahu oleh sahabat kalau yang datang adalah Hurmuzan dan rombongannya yang ingin berunding dengan Khalifah. Maka Hurmuzan berkata sambil menggelengkan kepala, “Engkau menghukum rakyatmu dengan penuh keadilan, sehingga engkau bisa tidur dengan aman”.

Sayyidina Umar telah menunjukkan kita bagaimana kemuliaan hanya dapat diraih dengan Islam. Saat ini kita lebih sering merasa mulia dengan simbol keduniaan, bukan dengan syiar Agama. Sehingga Allah menghinakan kita. Di sekitar kita ada orang yang tidak ingin menisbatkan diri kepada Islam secara mendalam, hanya di tepian. Karena para musuh Allah menjuluki para dai dengan sebutan ekstrim atau teroris, dan istilah keji lain.

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Al Hajj: 11)

Allah subhanahu wa taala hanya membagi manusia menjadi dua, yaitu muslim atau pendosa, orang shalih atau ahli maksiat, yang tidak mungkin sama antara keduanya. Allah ta’ala berfirman:

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (Shaad: 28)

Ummat Islam adalah ummat pertengahan, adil dalam segala hal. Bukan ummat yang hidup tanpa aqidah / prinsip atau ummat yang berlebih-lebihan sehingga menuhankan segala hal. Karenanya, ummat Islam hanya menyembah Allah semata.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Al Baqarah: 143)

Ummat Islam bukanlah golongan yang menyanjung kehidupan dunia, namun bukan juga golongan yang bersifat kaku seperti para pendeta yang mengharamkan dirinya terhadap apa yang Allah halalkan. Kita adalah ummat pertengahan, yang menyukai keindahan selama tidak bertentangan dengan syariat Allah. Ummat Islam juga merupakan ummat yang pertengahan dari sisi zaman, bukan ummat yang pertama dan bukan juga yang terakhir. Sehingga dapat mengambil pelajaran dari masa lalu dan membangun generasi yang akan datang.

Ummat Islam juga merupakan ummat yang pertengahan dari sisi pemikiran. Bukan golongan yang menghapuskan akal, namun bukan pula menjadi pemuja akal. Akal diselaraskan dengan dalil wahyu, serta pemikiran dengan ilmu.

Maka merasa mulialah dengan Islam, wahai kaum muslimin! Merasa mulialah dengan jalan yang ditapaki para Nabi, Rasul, serta orang-orang shalih. Jika ada orang yang tidak ingin menisbatkan dirinya dengan Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad, serta para orang shalih, maka ia akan menisbatkan dirinya kepada iblis, Fir’aun, Abu Lahab, serta para ahli neraka. Sungguh Allah telah menjelaskan kedua jalan di atas.

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. (Al Kahfi: 29)

Demi Allah. Dahulu manusia dalam keadaan hina dan tersesat, hingga Allah mengutus RasulNya. Maka sungguh sangat celaka orang yang mencari kemuliaan dengan mengikuti jalan orang-orang kafir, mendukung mereka, bersikap “menjilat” kepada mereka, bahkan setia kepada mereka meskipun mereka memerangi kaum muslimin. Merekalah orang-orang yang dalam hatinya terdapat penyakit kemunafikan, maka mereka akan menyesali apa yang mereka tempuh.

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (An Nisa: 138-139)

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (Al Maidah: 52)

Mari kembalikan kemuliaan Ummat Islam dengan memuliakan diri kita dengan Islam! [FIM]

Sebagian besar dirangkum dari buku “Mereka Ingin Memadamkan Matahari (Al Islam wa Qodhoyal ‘Ashr)”, karya Dr. ‘Aidh Al Qorni, M.A.. Tulisan ini juga telah dimuat dalam buletin Al Iltizam KAMUPI PNUP edisi 2 desember 2016.

 

Lima Bot Telegram Terbaik Untuk Penunjang Chattingmu

Telegram merupakan salah satu aplikasi chatting yang populer digunakan. Perbedaan telegram dengan aplikasi lain adalah telegram bersifat open-source dan menggunakan cloud storage, sehingga pengguna tidak perlu khawatir kehilangan chat history yang telah dihapus dari perangkatnya. Selain itu, telegram juga dapat digunakan pada banyak sistem operasi, baik desktop maupun mobile.

Keunggulan telegram yang lain adalah fitur bot. Bot merupakan akun yang dapat merespon pesan yang masuk secara otomatis sesuai perintah yang diprogram pada bot tersebut. Bot digunakan untuk memudahkan pekerjaan penggunanya, seperti pencarian gambar, gaming, dan lainnya. Bahkan bot telegram sudah dapat digunakan untuk mengendalikan mikrokontroler.

Jumlah bot telegram sangat banyak, dan terus bertambah seiring bertambahnya pengembang bot. Berikut ini lima bot telegram populer beserta fungsinya. Saya hanya membatasi pembahasan pada lima bot karena bot tersebut yang sering saya gunakan dan agar tulisan ini tidak terlalu panjang ^_^.

  1. Bold

    Fungsi bot ini adalah mengubah tulisan menjadi tebal, miring, atau preformatted. Cara penggunaannya cukup ketik @bold beserta kalimat yang ingin dikirimkan pada chat room.

    11,2

  2. Pollbot

    Mau membuat jajak pendapat di grup? Gunakan saja bot @pollbot. Cukup chat @pollbot dan ikuti perintahnya. Setelah itu bagikan polling yang telah dibuat ke grup yang diinginkan.

    22,2

  3. Like

    Hampir serupa dengan @pollbot, namun @like lebih praktis digunakan karena tidak ada pilihan jawaban secara tertulis (hanya berbentuk emotikon). Cukup ketik @like di grup lalu ketik pertanyaan yang ingin diajukan. Hasilnya akan seperti ini.

    3

Jika ingin menambah emotikon, lakukan langkah di atas melalui private chat dengan @like.

3,2

  1. Youtube

    Bot @youtube dapat menampilkan video sesuai dengan kata kunci yang dimasukkan. Cukup ketik @youtube beserta kata kunci pada chat room, dan deretan hasil pencarian akan muncul.

    44,2

  2. Bing

    Bot ini berguna untuk mencari gambar dan langsung mengirimkannya ke chat room. Cukup ketik @bing dan kata kuncinya, lalu deretan hasil pencarian akan muncul.

    55,2

Sekian pembahasan tentang bot telegram. Jika ada kesalahan atau ingin menambahkan bot favorit anda, silahkan tulis di kolom komentar.

Kedudukan Akal dalam Islam

Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pencipta manusia telah membekali manusia dengan akal, yang perannya sangat vital bagi kehidupan manusia. Dengan akal, manusia dapat membedakan kebaikan dan keburukan, serta memahami kebesaran dan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla. Karena peran vital tersebutlah, maka Islam mengatur tentang bagaimana cara manusia berfikir dan menggunakan akal.

KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM

1. Agama diturunkan hanya kepada orang yang berakal

syariat Islam hanya dibebankan kepada orang-orang yang berakal. Karena hanya orang-orang yang berakal yang dapat memahami syari’at. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah: 269)

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Ar Ra’d: 19)

Hanya orang-orang yang akalnya tidak/belum berfungsi dengan baik yang dibebaskan dari syariat Islam, atau dibebaskan dari perintah dan larangan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Pena pencatat amal dan dosa itu diangkat dari tiga golongan; orang yg tidur hingga terbangun, orang gila hingga ia waras, & anak kecil hingga ia baligh. [HR. Abudaud No.3822].

Sangat banyak ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan bahwa Al Qur’an dan seluruh tanda-tanda kebesaran Allah hanya diturunkan kepada orang-orang yang berakal.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 190)

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar: 9)

2. Diperintahkan Allah agar dijaga

Salah satu hikmah dari larangan Allah subhanahu wa ta’ala atas khamr (minuman keras) adalah untuk menjaga akal dari kerusakan. Sebab jika akal telah rusak, maka seseorang dapat melakukan apapun yang dia kehendaki. Sebagaimana firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al Maidah: 90-91)

Melalui khamr, syaitan akan mengendalikan peminum khamr untuk berbuat kerusakan, serta menjauhkannya dari mengingat Allah. Karena itu, sering ditemukan orang yang berbuat kerusakan akan meminum khamr terlebih dahulu sebelum berbuat kerusakan.

Dengan kata lain, akal diciptakan Allah sebagai pengendali kehidupan. Supaya manusia mendapatkan kemuliaan dalam kehidupannya dengan akal.

3. Menjadi Sebab Diturunkannya Syariat

Salah satu tujuan diturunkannya syari’at adalah untuk mengatur penggunaan akal. Syari’at dan akal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Akal merupakan syarat dalam mempelajari semua ilmu. Ia juga syarat untuk menjadikan semua amalan itu baik dan sempurna, dan dengannya ilmu dan amal menjadi lengkap. Namun (untuk mencapai itu semua), akal bukanlah sesuatu yang dapat berdiri sendiri, tapi akal merupakan kemampuan dan kekuatan dalam diri seseorang, sebagaimana kemampuan melihat yang ada pada mata. Maka apabila akal itu terhubung dengan cahaya iman dan al-Qur’ân, maka itu ibarat cahaya mata yang terhubung dengan cahaya matahari atau api” [Majmû’ul Fatâwâ, 3/338].

Artinya, peran akal dalam mengendalikan kehidupan manusia sangat penting. Akal dan syariat adalah seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan.

JIKA AKAL DIKALAHKAN DENGAN HAWA NAFSU

Sebagian manusia telah dikalahkan akalnya oleh syahwatnya. Mereka menggunakan akalnya untuk menentang syari’at dan melecehkan sunnah Rasulullah. Mereka mengecap orang yang menjalankan syariat Allah dan sunnah Rasulullah sebagai orang yang bodoh dan terbelakang.

Beberapa contoh kasus seperti itu telah terjadi. Ada orang yang mengatakan bahwa ibadah haji itu hanya membuang harta dan tenaga. Ada juga yang mendukung perilaku penyimpangan seksual (yang telah nyata pengharamannya dalam Al Qur’an dan Hadits) dengan dalih hak asasi manusia. Dan pemikiran sesat lainnya yang telah mereka sebarkan untuk merusak akal manusia.

Orang yang beriman jika diturunkan kepadanya suatu perintah, maka mereka akan mendengarnya dan menaatinya. Sedangkan orang kafir hanya mendengar perintah tersebut, namun mereka tidak menaatinya bahkan melecehkannya. Perbandingan orang beriman dan orang kafir dalam menerima perintah dari Allah telah termaktub dalam Al Qur’an:

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (Al Baqarah: 285)

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (An Nisa: 46)

Bagi orang beriman, perintah dan syariat Allah adalah sesuatu yang wajib ditaati tanpa harus dianalisis dan dipertentangkan. Sedangkan bagi orang kafir yang menganggap akalnya lebih hebat dari syariat Allah, mereka akan melecehkan syariat tersebut. Bagaimana mungkin akal manusia mengalahkan kepintaran dan kecerdasan Allah yang menciptakannya?

Intinya, akal bukan berfungsi sebagai hakim atas segala hal. Namun akal hanya berfungsi sebagai alat untuk memahami kekuasaan Allah. Letakkan akal kita di belakang Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Malu, Kepingan Iman yang Mulai Terkikis

Salah satu sifat yang dimiliki manusia secara fitrah adalah sifat malu. Sifat malu telah diajarkan oleh orang tua kepada anaknya sejak kecil, bahkan sifat malu merupakan ajaran Islam yang diposisikan sangat tinggi dalam Islam. Maka sangat disayangkan jika sifat malu perlahan mulai terkikis oleh perilaku manusia yang mulai tidak mengenal rasa malu.

Menurut Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah, alhaya’ (rasa malu) diambil dari kata-kata hayat (kehidupan). Sehingga kekuatan rasa malu itu sebanding lurus dengan sehat atau tidaknya hati seseorang. Berkurangnya rasa malu merupakan pertanda dari matinya hati dan ruh orang tersebut. Semakin sehat suatu hati maka akan makin sempurna rasa malunya.

MALU MERUPAKAN FITRAH MANUSIA

Sejak awal kehidupan manusia, yaitu pada kehidupan Nabi Adam dan Istrinya di Surga, sifat malu telah ditanamkan dalam diri mereka. Sehingga sifat malu merupakan fitrah manusia. Allah menceritakan dalam Al Qur’an saat Nabi Adam dan Istrinya mengikuti ajakan Iblis untuk memakan buah yang dilarang. Setelah mereka memakan buah tersebut, aurat mereka tersingkap dan mereka merasa malu sehingga menutupi tubuhnya dengan dedaunan.

maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Surah Al Al A’raf ayat 22)

MALU MERUPAKAN AJARAN NABI DAN RASUL

Salah satu contoh yang tertulis dalam Al Qur’an adalah kisah dua putri Nabi Syuaib saat diperintahkan ayahnya menemui Nabi Musa ‘alaihissalam. Mereka menemui Nabi Musa ‘alaihissalam dengan malu-malu, karena mereka mendatangi tempat seorang lelaki yang bukan mahramnya.

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”. (Surah Al Qashash ayat 25)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan merupakan seorang pemalu. Digambarkan dalam sebuah hadits bahwa beliau lebih malu dibanding seorang gadis yang dipingit.

Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit. (Hadits Riwayat Bukhari)

MALU MERUPAKAN AKHLAK ISLAM

Salah satu tanda mulianya ajaran Islam adalah mengajarkan sifat malu. Saking pentingnya sifat malu sehingga malu merupakan salah satu bagian dari iman.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Iman itu terdiri dari 70 sekian atau 60 sekian cabang. Cabang iman yang paling utama adalah ucapan la ilaha illalloh. Sedangkan cabang iman yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari tempat berlalu lalang. Rasa malu adalah bagian dari iman.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya. (Hadits riwayar Al Hakim)

Malu dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu malu kepada Allah dan malu kepada manusia. Malu kepada Allah adalah rasa malu untuk meninggalkan perintah Allah. Malu untuk melakukan maksiat dan menjaga syahwat. Sedangkan malu kepada manusia membawa kepada sifat terpuji, serta tidak melakukan hal-hal tercela di hadapan manusia. Sifat malu akan mengontrol manusia untuk berpikir lagi sebelum berbuat atau berkata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang malu kepada Allah dalam sebuah hadits.

Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya”. “Kami sudah malu duhai Rasulullah”, jawab para sahabat. Nabi bersabda,“Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan sebenar-benarnya.” (HR. Tirmidzi)

HILANGNYA SIFAT MALU DI ZAMAN SEKARANG

Sangat disayangkan jika saat ini sifat malu mulai berkurang di sisi manusia. Beberapa orang tidak malu lagi untuk mengerjakan perbuatan tercela, baik di sisi manusia terlebih lagi di hadapan Allah. Seperti bermesraan di tempat umum dengan orang yang bukan mahramnya, melakukan transaksi haram, bahkan tidak malu lagi untuk meninggalkan Shalat.

Bahkan sebagian orang begitu bangganya menyebarkan berita atau bukti perbuatan maksiat mereka, yang sebenarnya mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi. Allah telah menyembunyikan aib mereka, namun mereka sendiri yang menyebarkan keburukan mereka.

Maka sungguh benarlah sabda Rasulullah berikut ini.

Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’” (Hadits Riwayat Bukhari)

Mari jaga iman kita agar tidak berkurang, dengan menjaga sifat malu dalam diri kita.